Pada saat itu hutan para binatang kian lama kian berkurang dan sampai sekarang
masih terjadi penyusutan hutan. Para hewan kesulitan mencari makan
untuk memenuhi nafsu kami. Spesies lain ada yang mengungsi ke hutan
yang lebih dalam dan lebih lebat, ada pula yang masuk perkampungan Homo
Sapiens atau bahasa umumnya manusia. Begitulah cara binatang bertahan hidup.
Seperti biasa, pada malam hari kancil biasa beraksi mencuri mentimun di
kebun pak tani, tapi pada malam ke limabelas si kancil melihat seekor
kura-kura di dalam kurungan ayam. Tanyanya kepadanya “Apa yang kau
lakukan sehingga kau dikurung wahai kura-kura?”.
“Aku kan sedang menunggu hari spesialku besok” jawabnya.
“Hari spesial apa?” tanya si kancil lagi.
“Besok pak tani akan memberiku makanan yang sangat lezat” katanya.
si kancil ingat akan cerita para orangtua dulu bahwa dulu ada seekor kancil
yang ditipu kura-kura yang berada di dalam kurungan ayam untuk bertukar
tempat. Mengingat akan hal itu, asi kancil berniat meninggalkannya tapi kasihan
kepadanya, dia pun sama seperti kancil ingin mencari makan, karena dirinya
lambat maka dengan mudah pak tani menangkapnya. Aku pun berniat
membebaskannya. “Sepertinya kau baru tertangkap karena mencuri, sini
kubuka kurunganmu!” kata kancil menawarinya.
Air mata kura-kura itu bercucuran ketika sikancil menawarkan bantuan dia pun
berterimakasih kepada si kancil, “Hu…hu… hiks hiks, terimakasih wahai kancil,
padahal aku mau menjebakmu supaya tidak disembelih besok”. Tiba-tiba pak
tani keluar dari rumah sambil membawa golok, aku terkejut dan tentu
saja aku juga kaget. Seketika itu aku pun pergi dan meninggalkan si
kura-kura di rumah pak tani.
Pada saat aku lari terdengar perkataan dari mulut pak tani yang
marah-marah membentak ” G*blog sia anj*ng!!! mun beunang dipencit sia ku
aing (G*blok kamu anj*ng!!! kalau kamu kena disembelih sama saya) “.
Entah mengapa dia memanggil sikancil anjing padahal bukan dan jelas-jelas tadi sikancil berusaha mencuri mentimun, dan sungguh malang pula nasib si
kura-kura besoknya.
Di tengah-tengah pelarian itu si kancil berhenti sejenak untuk menghela
nafas, di belakang rumah tetangganya pak tani, jaraknya kalau tidak
salah 5 rumah. Pada saat itu terdengar suara yang menggugah rasa
penasaranku, dari arah suara itu ada pancaran cahaya pula yang mengarah
ke jendala. Aku intip ke dalam untuk melihat sumber suara dan cahaya
itu. Oh ternyata ada seorang manusia yang sedang menonton televisi. Dia
sedang menonton film dokumenter tentang Mahatma Gandhi salah seorang
tokoh terkenal dari India. Di film itu disebutkan bahwa dia seorang
pejuang yang tidak mengedepankan kekerasan dalam perjuangannya, sikancil merasa itu suatu perbuatan mulia. Tak lama kemudian orang itu
memindahkan cenelnya, dan berganti menjadi film Robin Hood, dia
dikisahkan sebagai pencuri yang suka bersedekah dari hasil curiannya.
sikancil pun terinspirasi untuk membuat suatu gerakan pembaharuan dalam
mendapatkan makanan. Setelah menonton dan kembali pulang ke hutan, sikancil menyusun sebuah rencana untuk mendapatkan makanan dengan cara meminta
kepada manusia, kancil berharap mereka tidak marah dengan kedatangannya yang
cinta damai.
Pada hari besoknya pagi-pagi kancil bergegas pergi ke desa dari hutan.
Sesampainya disana, kancil mulai mendatangi tempat pertama, disana ada
kebun wortel dan tomat. Ketika kancil menginjakkan kaki disana, orang-orang
di kebun itu memandanginya dengan pandangan tajam. kancil mengeluarkan suara
yang kalau diterjemahkan ke bahasa manusia, aku meminta ijin untuk
minta sedikit makanan. Mereka memandangnya keheranan, agar tidak heran kancil mendekati tanaman wortel dan mendekatkan mulutku ke wortel sambil
mengeluarkan suaranya yang sama. Mereka seketika jadi marah dan
melemparinya dengan batu. kancil pun lari tunggang langgang, lalu kancil pun
mencari tempat lain atau kebun lain. Keadaannya masih sama, kancil terusir
dari sana. Walau begitu aku tidak langsung menyerah. Di tempat
berikutnya kancil menemukan sekelompok orang yang berbeda pakaiannya dengan
petani kebanyakan, mereka menggunakan almamater, terdiri dari pria dan
wanita. Mereka sedang belajar bertani agaknya namun tidak semua, karena
ada dua orang dari mereka jaraknya agak jauh sedang mengadukan bibir
mereka kemudian di tengah-tengah itu mereka melakukannya secara
berguling-guling. Ah sudahlah, bangsa kami tidak mengenal itu. Ketika kancil datang, mereka menatapnya keheranan namun berkekspresi agak senang
terutama yang wanita. Salah satu dari mereka berteriak “ada kancil!! ada
kancil!! lucu banget”. Mereka pun menghampirinya dan mengerumuninya serta
mengelusnya, wow baru kali ini kancil mendapat perlakuan teladan dari
manusia.
Sesuai dengan rencananya, tidak sedikit dari mereka yang memberi kancil makan, lezat sekali. Sebelum kancil tidak bisa bergerak karena kekenyangan, kancil berusaha mencari keranjang atau kresek, tidak jauh dari tempatnya makan dan menghirup oksigen, dia melihat kantong kresek. dia segera
bergerak untuk mengambilnya, setelah mengambil kantong kresek, aku
menghampiri manusia-manusia beralmamater tersebut. “Kayaknya dia mau
minta makan buat persediaan deh”, kata salah seorang manusia berjenggot.
Kemudian mereka pun memberikanku makanan, makanannya pun bermacam-macam
ada sayur, ada buah bahkan ada makanan yang berbentuk kotak berwarna
putih pinggirnya berwarna coklat entah apa warnanya. Tak hanya makanan,
salah satu dari mereka ada memberinya minum tapi bukan air yang biasa kancil minum, entah apa namanya, arinya berwarna merah tapi bukan darah lho,
aku tahu ciri-ciri darah bagaimana.
Hari itu kancil pulang ke hutan gembira sekali, kantong kresekku penuh
makanan dan 1 jenis air dalam botol. Sesampainya di hutan kancil membagikan makanan yang dia bawa pada binatang-binatang. “Wah kau baik
sekali, terimakasih kancil”, kata seekor burung.
Selama sebulan kancil melakukan itu, walaupun tidak tiap hari," Hanya
satu yang belum kuberi pada mereka atau kukonsumsi sendiri, yaitu air
merah dalam botol, botolnya warna hijau. Ya nanti sajalah, sepertinya
harus diminum di waktu yang tepat" kata si kancil. Begitulah kesehariannya sekarang, kancil suka bersedekah sesama hewan darat air dan udara.
Karena si kancil terlalu baik terhadap hewan-hewan yang ada di hutan,
mereka menjadi semakin malas mencari makan sendiri, banyak dari mereka
hanya menunggu makanan yang dibawa si kancil. Permintaan mereka semakin
banyak dan membuat si Kancil kewalahan. Dia semakin lelah bolak-balik ke
hutan dan ke desa. Suatu hari sekitar jam satu siang dia sangat
kelelahan setelah membawa makanan, dan dia jauh dari sungai yang
mengalir. Si kancil ingat akan air di dalam botol yang ia dapatkan dari
mahasiswa, tak pikir panjang dia pun langsung meneguknya sampai habis.
Tak lama setelah ia minum air itu, dia merasa pusing tujuh keliling,
mungkin bila digambarkan ada burung terbang memutari kepalanya disertai
bintang.
Dia jadi berhalusinasi, di dalam pikiran bawah sadarnya keadaan di
sekitar dia menjadi sangat aneh. Dia merasa ada yang memanggil, dia
pergi ke arah suara itu. Semakin dekat suaranya semakin keras, setelah
sampai ternyata yang memanggil adalah orang yang memberikan minuman aneh
kepada dia, orang itu sedang minum dengan minuman yang sama dengan yang
diberikan kepada si kancil dan ia pun mabuk. Ia pun tertawa setelah
melihat kedatangan si kancil, “Heh kesini ada minuman nih biar kuat”,
tawar orang itu sambil sempoyongan. Si kancil yang masih lelah segera
mendekat. Begitu mendekat orang itu menjadi punya taring seperti
harimau, matanya bersinar merah, suaranya pun jadi suara harimau. Si
kancil terkejut melihat itu, tapi ia masih ingin meneguk minuman itu.
Ketika ia akan diberi minuman, orang itu malah meminumnya ternyata dia
jahil juga. Seketika setelah ia minum kulitnya mengelupas, dan tulangnya
kelihatan.
Tak lama kemudian dia pun menjadi tangkorak yang bersimbah darah. Si
kancil lari ketakutan tanpa arah yang jelas. Ketika dia mulai merasa
aman, dia sampai di sebuah padang rumput yang luas yang dia tidak pernah
lihat sebelumnya. Disana dia melihat banyak hewan yang belum pernah dia
lihat juga keberadaannya di hutan tempat dia tinggal. Dia melihat kuda
tapi belang bagaikan harimau. Melihat binatang yang sangat panjang
lehernya. Dia bertanya kepada hewan berleher panjang itu, “Dimana ini?”.
“Ini adalah savana, kau di benua Afrika”, jawabnya. Tiba-tiba
segerombolan binatang berteriak “BAHAYA… BAHAYA… ada singa !!!”.
Seketika itu pun mereka berlari, dia sangat terkejut melihat hewan yang
sangat banyak berlari, dia pun ikut meyelamatkan diri bersama mereka.
Tapi dia kalah cepat, dan akhirnya tertinggal, dia pun mencari tempat
sembunyi dari kejaran kawanan singa. Dia melihat semak belukar, lalu
masuk kesitu. Tetapi tak lama dia disana, tanaman itu pergi. Si kancil
merasa keheranan melihatnya, tak mau berlama-lama memikirkan itu dia pun
masuk semak lagi, dan hal yang sama terjadi. Berulang kali ia melakukan
itu akhirnya ia pasrah, para singa pun sudah mengepung.
Seekor singa jantan langsung membuka mulutnya lebar sekali, dan langsung
menelan si kancil. Ketika masuk ke dalam tubuh si singa, dia merasa
seperti di dalam sebuah perosotan yang ada di waterboom, sekelilingnya
berwarna merah dan memuncratkan darah. Ketika sampai di ujung perosotan
itu, tibalah ia di sebuah taman bergaya jepang. Di atasnya ada sebuah
cahaya, ternyata ada seekor monyet berbulu putih berekor 9 berwajah
merah berambut seperti bob marley sambil duduk memainkan gitar di atas
awan yang mengapung.
“Siapa kamu?” Tanya kancil keheranan. “Hehehe… kau yang siapa wahai
binatang aneh?” jawabnya santai. “Bukannya kamu yang paling aneh? ngaca
dong!!!, balas si kancil. “Hei, lihatlah dirimu kancil tak semestinya
kau berbuat begitu kepada kami” balas si monyet.
“Apa maksudmu?”
“Tidakkah kau sadar, akibat perbuatanmu itu hewan-hewan di hutan menjadi pemalas”
“Mengapa salah aku? aku tidak meminta mereka seperti itu”
“Sekarang aku Tanya, makhluk apakah engkau wahai kancil?”
“Hewan tulen”
“Hewan apakah engkau?”
“Hewan soliter”
“Kenapa engkau memberi makan kepada hewan lain yang bukan spesiesmu?”
“Aku kasihan, karena mereka susah mencari makan”
“Tahukah engkau, sesungguhnya engkau sudah keluar dari fitrahmu, kancil
yang benar adalah yang penyendiri dan suka menipu. Akibat perbuatanmu
hewan-hewan lain juga sudah keluar dari fitrahnya. Sedekah memang trend
di kalangan manusia, dan kau malah ikut-ikutan seperti mereka. Bagi
mereka engkau memang binatang yang baik, tapi engkau juga binatang yang
hilang jati dirinya, karena kancil yang benar adalah seperti yang aku
sebutkan tadi. Apakah harus kuulangi lagi? Kurasa tidak perlu karena
sepertinya kau masih ingat. Hati-hati wahai kancil, bila semua hewan
berbuat sepertimu kehancuran alam semakin dekat.”
Seketika itu monyet itu menghilang dari pandangannya, si kancil pun
sadar akan perbuatannya dan sadar pula dari mabuknya. Tak lama setelah
kejadian itu, dia pun kembali ke jatidirinya dan mengajak hewan lain
menjadi dirinya sendiri.
"TAMAT"